POLEZ.ID – Menjelang bulan suci Ramadhan hingga Hari Raya Idulfitri, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kerap mengalami penurunan. Namun, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, Gulat Medali Emas Manurung, menegaskan bahwa petani kini semakin memahami pola tersebut dan siap mengawal proses penetapan harga agar tidak merugikan.
Menurut Gulat, tren penurunan harga TBS menjelang hari-hari besar keagamaan bukanlah hal baru. Kondisi ini telah terjadi selama bertahun-tahun dan selalu berulang setiap memasuki pertengahan Ramadhan.
“Biasanya pertengahan Ramadhan menjelang lebaran harga sawit terus turun. Dari dulu memang begitu. Setiap menjelang hari besar, penurunannya cukup signifikan dengan berbagai alasan yang sering kali tidak masuk akal,” ujarnya.
Selama ini, kata dia, penurunan harga kerap dikaitkan dengan faktor eksternal, seperti fluktuasi harga minyak nabati lain atau kondisi pasar global. Bahkan, sering disebutkan bahwa kenaikan produk minyak nabati lain menjadi penyebab turunnya harga crude palm oil (CPO).
Namun, menurut Gulat, petani sawit saat ini sudah memasuki generasi kedua yang lebih memahami mekanisme pasar dan struktur biaya.
“Petani sekarang sudah pandai berhitung. Dan ternyata itu bukan faktor utama. Penyebab utama turunnya harga TBS menjelang lebaran adalah pembebanan biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan pengolahan (PKS), seperti THR manajemen dan berbagai biaya lainnya yang diakumulasikan dan dibebankan ke harga TBS petani,” jelasnya.
Ia menilai, praktik tersebut membuat beban operasional perusahaan secara tidak langsung ditanggung oleh petani melalui penurunan harga beli TBS.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, dalam dua tahun terakhir Apkasindo bersama sejumlah organisasi petani sawit lainnya memperkuat pengawasan terhadap komponen biaya dalam penetapan harga.
“Alhamdulillah, dua tahun terakhir petani sawit di seluruh Indonesia cukup solid. Kami mengawal harga TBS dengan memeriksa item-item dalam BOL (Biaya Operasional Langsung) dan BOTL (Biaya Operasional Tidak Langsung). BOTL ini yang harus lebih teliti karena di situ sering terjadi pembengkakan,” katanya.
Langkah pengawasan tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas harga TBS menjelang Hari Raya dalam dua tahun terakhir. Gulat berharap kondisi yang sama dapat terulang pada tahun ini.
“Mudah-mudahan di lebaran tahun ini harga TBS tidak turun, karena semua pihak sudah lebih fokus dan mengawasi tata cara penetapan harga,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pabrik kelapa sawit (PKS), khususnya pabrik komersial yang tidak memiliki kebun sendiri, agar tidak menetapkan kebijakan yang merugikan petani.
“Pabrik-pabrik komersial jangan macam-macam, jangan ingin menang sendiri. Penetapan harga harus transparan dan adil,” tegasnya.
Di sisi lain, Gulat turut mengimbau petani untuk menjaga kualitas hasil panen agar posisi tawar tetap kuat di pasar.
“Petani juga harus disiplin, menjual TBS dengan kualitas yang baik. Kalau kualitas bagus, maka harga juga lebih mudah dipertahankan,” tutupnya.
Dengan meningkatnya soliditas petani dan pengawasan terhadap struktur biaya, Apkasindo optimistis harga TBS pada Ramadhan dan Lebaran tahun ini dapat lebih stabil dan tidak mengalami penurunan signifikan seperti yang kerap terjadi sebelumnya.

