BSSN Perkuat Keamanan Siber untuk Dukung Transformasi Digital Pemerintah
YPASNEWS
POLEZ.ID — Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) memperkuat kapabilitas keamanan siber di lingkungan pemerintahan seiring percepatan transformasi digital nasional.
Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi mengatakan, keamanan siber dan persandian menjadi fondasi penting dalam membangun pemerintahan digital yang aman, tepercaya, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan pengukuhan bersama Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) organisasi sektor pemerintah dan pembangunan manusia yang disiarkan melalui kanal YouTube BSSN, Selasa (6/10/2026).
“Hal ini sejalan dengan arahan Presiden mengenai pemerintahan incorporated, digitalisasi dan karakter ancaman siber yang terus berkembang,” ujar Nugroho.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Juli 2026 telah menegaskan bahwa digitalisasi di lingkungan pemerintahan merupakan hal yang mutlak dilakukan.
Digitalisasi tersebut ditujukan untuk menghadirkan layanan publik yang lebih cepat, mudah dan terintegrasi. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi harus mengantre berjam-jam atau berpindah dari satu kantor ke kantor lain untuk mendapatkan pelayanan.
Nugroho menegaskan, arahan tersebut harus menjadi pedoman seluruh entitas kelembagaan pemerintah, termasuk para penyelenggara sistem pemerintahan berbasis elektronik.
“Digitalisasi adalah suatu era yang tidak bisa dihindari, dengan digitalisasi segala sesuatu bisa dilakukan by remote. Melalui digitalisasi hal-hal yang dulu dilakukan manual dan saat sekarang tidak mungkin lagi dilakukan secara manual,” katanya.
Di sisi lain, percepatan digitalisasi juga diikuti dengan berkembangnya potensi ancaman siber. Karena itu, Nugroho meminta setiap TTIS melakukan identifikasi menyeluruh terhadap aset yang dimiliki, termasuk risiko dan ancaman yang mungkin dihadapi.
Ia mendorong penguatan perlindungan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penerapan standar keamanan, khususnya prinsip Security by Design, serta penerapan pertahanan berlapis atau defense in depth dan Resilience by Architecture.
“Pengukuhan ini adalah awal, bukan akhir. Ketika insiden benar-benar terjadi, kecepatan penanganan oleh TTIS menjadi kunci. Untuk itu, kapabilitas TTIS harus terus kita perkuat secara bertahap dan berkelanjutan,” ujar Nugroho.
Penguatan kapabilitas TTIS tersebut difokuskan pada enam aspek, yakni tata kelola dan kelembagaan, deteksi dan pemantauan, respons dan pemulihan, kompetensi dan kesiapan SDM, kematangan secara berkelanjutan, serta penguatan kolaborasi dan jejaring.



