Search

12 Maret 2026

|

Lingkungan

Kemenhut Intensifkan Pemadaman Karhutla Riau, 160 Personel Manggala Agni Dikerahkan 

POLEZ.ID – Kementerian Kehutanan memastikan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus diintensifkan guna mencegah meluasnya areal terdampak. Strategi utama yang diterapkan saat ini adalah pelokalisasian titik api secara ketat untuk memutus jalur perambatan dan mencegah potensi kabut asap memasuki kawasan permukiman.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan bahwa situasi di lapangan sangat dinamis akibat kombinasi cuaca kering dan angin kencang.

“Strategi utama saat ini adalah menahan pergerakan api agar tidak memperluas area terdampak. Pengerahan personel dan dukungan lintas wilayah kami lakukan secara terukur,” ujar Ferdian dalam pernyataan resminya, Selasa (17/2/2026).

Ratusan Personel Dikerahkan

Dalam operasi ini, Kemenhut mengerahkan sedikitnya 160 personel Manggala Agni untuk pemadaman langsung, sementara 80 personel lainnya disiagakan khusus untuk patroli dan deteksi dini titik api baru. Tim gabungan bergerak bersama unsur BNPB, BMKG, TNI, Polri, serta BPBD guna memastikan penanganan berjalan terkoordinasi.

Mobilisasi tambahan juga dilakukan dari berbagai Daerah Operasi (Daops). Satu regu dari Daops Rengat digeser ke Pulau Mendol, Pelalawan, sedangkan Daops Siak diperbantukan ke Bengkalis. Dukungan lintas provinsi turut dikerahkan, termasuk dari Daops Bukit Tempurung, Jambi, untuk membantu pemadaman di wilayah Dumai.

Titik Api Dekat Permukiman dan Perkebunan

Titik kebakaran saat ini teridentifikasi di Kabupaten Kampar, Bengkalis, Siak, dan Pelalawan. Status lahan terdampak bervariasi, mulai dari Hutan Produksi, Kawasan Konservasi, hingga Areal Penggunaan Lain (APL). Beberapa lokasi bahkan terpantau berada dekat dengan perkebunan sawit milik masyarakat maupun perusahaan serta berbatasan langsung dengan permukiman warga.

Ferdian menjelaskan, tantangan terbesar dalam pemadaman adalah kondisi lahan gambut yang sangat kering akibat hampir 20 hari tanpa hujan. Muka air tanah tercatat berada di posisi minus sekitar 90 sentimeter, sehingga vegetasi bawah permukaan sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan secara manual.

Dugaan Faktor Manusia dan Imbauan Tegas

Selain faktor alam, indikasi kebakaran di sejumlah titik diduga kuat akibat aktivitas manusia, khususnya praktik pembukaan lahan dengan cara membakar sisa vegetasi yang kemudian tidak terkendali akibat angin kencang.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, mengingat kondisi cuaca yang sangat rawan memicu kebakaran meluas.

Operasi Modifikasi Cuaca Dikerahkan

Sebagai langkah percepatan penanganan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) turut dilakukan. Melalui BPBD Provinsi Riau, satu unit pesawat Cessna Grand Caravan C208 telah diterjunkan untuk menyemai satu ton garam di wilayah Siak dan Pekanbaru pada Senin (16/2).

Upaya hujan buatan ini diharapkan membantu pembasahan lahan, terutama di area yang minim sumber air dan sulit dijangkau tim darat.

Langkah penanganan ini merujuk pada penetapan Status Siaga Darurat Karhutla oleh Pemerintah Provinsi Riau melalui SK Nomor 102/2026 yang berlaku hingga 30 November mendatang. Dalam waktu dekat, struktur Satgas Karhutla akan dibentuk kembali guna memperkuat koordinasi serta mengajukan dukungan tambahan dari pemerintah pusat.