Polez.id – Kegiatan wisata sejarah yang seharusnya menjadi sarana edukasi berubah menjadi peristiwa mencekam. Lantai bangunan cagar budaya Tangsi Belanda di Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, ambruk pada Sabtu pagi (31/1/2026), saat puluhan pelajar sekolah dasar tengah mengikuti kegiatan study tour.
Insiden tersebut terjadi secara tiba-tiba ketika rombongan siswa SD IT Baitul Ridho Rawangkao, Kecamatan Lubuk Dalam, berada di area lantai dua bangunan peninggalan kolonial Belanda itu. Struktur lantai kamar bagian atas dilaporkan runtuh dan menimpa sejumlah siswa.
Akibat kejadian itu, sekitar 10 pelajar dilarikan ke RSUD Tengku Rafian Siak untuk mendapatkan perawatan medis karena mengalami cedera di bagian kepala. Selain itu, tiga siswa lainnya serta satu orang guru dilaporkan mengalami luka ringan. Total rombongan yang mengikuti kegiatan tersebut terdiri dari 55 siswa dan 13 orang guru pendamping.
Hingga Sabtu siang, pihak rumah sakit masih melakukan observasi intensif terhadap kondisi para korban untuk memastikan tidak ada cedera serius lanjutan.
Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan laporan awal, ambruknya lantai diduga kuat disebabkan oleh kondisi material bangunan yang sudah rapuh.
“Menurut laporan sementara dari pelapor, runtuhnya lantai dua Tangsi Belanda disebabkan usia kayu dan papan yang telah dimakan rayap. Kondisi ini diduga akibat kurangnya perawatan terhadap bangunan cagar budaya. Saat ini kami masih melakukan penelusuran lebih lanjut,” ujar AKBP Sepuh Ade.
Diketahui, bangunan Tangsi Belanda sebelumnya pernah mendapat penanganan melalui kegiatan pemugaran oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Permukiman (PU Tarukim) Kabupaten Siak pada tahun 2018 dan 2019. Pada tahun yang sama, Kementerian PUPR juga melaksanakan program revitalisasi dengan anggaran sekitar Rp5,2 miliar.
Secara historis, Tangsi Belanda merupakan kompleks pertahanan militer kolonial yang terdiri dari enam bangunan tersusun melingkar dengan halaman di bagian tengah. Kompleks ini dahulu digunakan sebagai penjara, barak tentara, kantor, gudang senjata, serta gudang logistik.
Namun, dari dua bangunan utama yang teridentifikasi, hanya satu unit yang direvitalisasi oleh Kementerian PUPR, yakni Gedung F yang berada di bagian belakang kompleks. Gedung tersebut dulunya berfungsi sebagai ruang makan tentara Belanda dan dinilai masih memiliki struktur relatif utuh berdasarkan kajian tim ahli. Sementara satu bangunan lainnya kini hanya menyisakan tapak pondasi.
Pasca kejadian, Bupati Siak Afni Zulkifli turun langsung ke lokasi kejadian bersama Kapolres Siak untuk meninjau kondisi bangunan. Bupati juga menyempatkan diri menjenguk para pelajar korban di RSUD Tengku Rafian Siak sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab pemerintah daerah.
Sementara itu, untuk kepentingan keselamatan, Tangsi Belanda Siak dipastikan akan ditutup sementara waktu guna keperluan observasi dan pemeriksaan menyeluruh terhadap struktur bangunan.
Insiden ini memantik keprihatinan sekaligus sorotan publik terhadap keamanan bangunan bersejarah yang difungsikan sebagai objek wisata dan edukasi. Masyarakat mendesak pemerintah daerah agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi seluruh cagar budaya di Kabupaten Siak, guna mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari.

