Search

12 Maret 2026

|

Nasional

Perbedaan Awal Ramadan Wajar, Begini Pesan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia

POLEZ.ID – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Iskandar, menegaskan bahwa potensi perbedaan dalam penentuan awal maupun akhir Ramadan merupakan hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. Perbedaan tersebut, menurutnya, berada pada ranah ijtihad yang bersifat teknis metodologi dan tidak menyangkut prinsip dasar akidah.

Pernyataan itu disampaikan dalam Konferensi Pers Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1447 H di Jakarta, Selasa (17/2/2026). KH Anwar menekankan bahwa kemungkinan umat Islam memulai atau mengakhiri puasa pada hari yang berbeda merupakan keniscayaan.

“Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi. Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati,” ujarnya.

Perbedaan adalah Kekayaan Intelektual

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan berbangsa yang demokratis, masyarakat Indonesia perlu membiasakan diri menyikapi perbedaan secara dewasa. Selama perbedaan tersebut tidak menyentuh prinsip dasar keimanan, maka hal itu justru menjadi bagian dari kekayaan tradisi intelektual Islam yang luas dan dinamis.

KH Anwar meyakini, perbedaan yang dikelola dengan bijak akan melahirkan harmoni dan memperkuat persatuan bangsa. Stabilitas nasional dan kedamaian sosial, menurutnya, akan tetap terjaga apabila masyarakat mampu melihat perbedaan sebagai rahmat.

“Jika perbedaan disikapi dengan bijak, maka justru akan memperkuat sinergi antara pemerintah dan umat dalam membangun masa depan bangsa,” tuturnya.

Momentum Tingkatkan Kualitas Ibadah

Di sisi lain, Ketua MUI mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas ibadah. Ia mengimbau agar setiap Muslim berusaha menyempurnakan rukun dan sunnah puasa, sehingga esensi Ramadan sebagai sarana peningkatan iman dan takwa dapat tercapai secara maksimal.

Sikap saling menghargai, lanjutnya, tidak hanya penting di internal umat Islam, tetapi juga dari masyarakat nonmuslim. Ia mengajak seluruh elemen bangsa menjaga suasana kondusif agar umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk dan damai.

Jaga Etika, Hindari Kegaduhan Digital

KH Anwar juga mengingatkan pentingnya menjaga perilaku dan lisan, terutama di era digital. Ia berpesan agar masyarakat tidak menyebarkan fitnah, melontarkan ujaran yang menyakiti, maupun membuat kegaduhan di media sosial yang dapat mencederai kesucian Ramadan.

Menurutnya, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang dilarang agama.

“Secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Jangan sampai secara lahir puasa, tetapi secara hakikat ternodai oleh sikap yang merusak persaudaraan,” pesannya.

Ia berharap Ramadan 1447 H mampu melahirkan pribadi-pribadi yang penuh kasih sayang (rahmah), sehingga semangat persaudaraan dan toleransi tetap terjaga erat dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

IMG-20260128-WA0110-750x541
IMG-20260128-WA0110-750x541

Ekonomi & Bisnis

Ekonomi & Bisnis

1 bulan ago