Search

7 Agustus 2026

|

Lingkungan

BBKSDA Riau Identifikasi Monyet Penyerang Warga Tembilahan, Korban Bertambah Jadi 19 Orang

POLEZ.ID – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau terus memperkuat penanganan konflik satwa liar yang terjadi di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Bersama Pemerintah Kabupaten Inhil, Forkopimda, dan berbagai pemangku kepentingan, BBKSDA melakukan langkah terpadu untuk mengatasi teror monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang telah melukai puluhan warga.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun, upaya mitigasi tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip konservasi.

“Keselamatan masyarakat merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar. Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi. Karena itu, kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan, identifikasi, serta penanganan yang tepat terhadap individu satwa penyebab konflik tanpa menimbulkan risiko yang lebih besar bagi masyarakat maupun satwa itu sendiri,” kata Supartono.

Pada Rabu (5/8/2026), Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau menggelar rapat koordinasi bersama Kapolres Indragiri Hilir, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran, Camat Tembilahan, dan Lurah Tembilahan Kota. Pertemuan tersebut membahas evaluasi penanganan sekaligus menyepakati langkah lanjutan dalam mengatasi konflik satwa liar.

Berdasarkan hasil koordinasi, serangan monyet terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15, Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota. Sejak pertama kali dilaporkan pada 23 Juli hingga 5 Agustus 2026, jumlah korban telah mencapai 19 orang. Selain menyebabkan luka akibat gigitan dan cakaran, kejadian tersebut juga menimbulkan keresahan serta dampak psikologis di tengah masyarakat.

Hasil identifikasi sementara menunjukkan serangan diduga dilakukan oleh seekor monyet ekor panjang dewasa berjenis kelamin jantan. Satwa tersebut memiliki ciri khas berupa bekas luka pada bagian pipi.

Petugas juga menemukan pola serangan yang hampir seragam. Monyet biasanya menyerang warga yang sedang sendirian atau lengah dengan menggigit bagian kaki, kemudian segera melarikan diri. Hingga kini, satwa tersebut belum terpancing mendekati umpan berupa pisang yang telah dipasang petugas.

Sebelum Tim WRU diterjunkan, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir bersama Forkopimda telah melakukan berbagai upaya penanganan, mulai dari penyisiran menggunakan jaring dan tangguk hingga melibatkan personel TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, pemerintah kecamatan, relawan, serta masyarakat.

Dalam rapat koordinasi disepakati bahwa penanganan konflik akan mengutamakan keselamatan masyarakat dengan tetap menjunjung prinsip konservasi. Seluruh pihak diminta tidak melakukan perburuan terhadap satwa tersebut, melainkan memperkuat pemantauan dan menyiapkan kandang perangkap sebagai sarana evakuasi apabila monyet berhasil ditemukan.

BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas sendirian di lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan satwa, tidak memberi makan monyet liar, serta segera melapor kepada petugas apabila melihat monyet dengan ciri-ciri yang telah diidentifikasi.

BBKSDA Riau berharap seluruh masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperburuk situasi. Penanganan konflik satwa liar, menurut lembaga tersebut, membutuhkan kerja sama semua pihak agar keselamatan masyarakat tetap terjamin sekaligus memastikan satwa ditangani sesuai kaidah konservasi.