POLEZ.ID – Tren harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit petani plasma dan swadaya selama sepekan terakhir menunjukkan pergerakan yang relatif stabil dengan kecenderungan menguat. Di tengah dinamika pasar global, kondisi ini menjadi angin segar bagi petani sawit nasional.
Berdasarkan laporan harga TBS APKASINDO periode 22-28 Juni 2026, rata-rata harga TBS skema plasma secara nasional tercatat sebesar Rp3.415 per kilogram atau naik Rp7/kg dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, harga TBS petani swadaya berada di level Rp2.947/kg, meningkat Rp30/kg atau naik sekitar 1 persen dibandingkan minggu sebelumnya.
Secara nasional, pergerakan harga masih bervariasi antarwilayah. Pada skema plasma, sebanyak empat provinsi mengalami kenaikan harga, lima provinsi mengalami penurunan, sedangkan 13 provinsi lainnya tercatat stabil. Sementara pada skema swadaya, sembilan provinsi mengalami kenaikan harga, 11 provinsi turun, dan dua provinsi relatif stabil.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat Medali Emas Manurung, menilai tren tersebut menunjukkan pasar sawit nasional masih cukup kuat di tengah berbagai tantangan global.
“Secara umum harga TBS petani dalam sepekan terakhir bergerak stabil dengan kecenderungan menguat, terutama pada petani swadaya. Ini menjadi sinyal positif bahwa pasar mulai menemukan keseimbangan setelah beberapa pekan mengalami fluktuasi,” ujar Gulat, Minggu (28/6/2026).
Menurut Gulat, stabilnya harga TBS tidak terlepas dari masih terjaganya harga minyak sawit mentah (CPO) dunia, permintaan ekspor yang tetap kuat, serta meningkatnya konsumsi domestik melalui program biodiesel.
Meski demikian, APKASINDO masih menyoroti lebarnya disparitas harga antara petani plasma dan swadaya. Berdasarkan laporan tersebut, selisih rata-rata harga kedua skema masih mencapai Rp468/kg atau sekitar 15,9 persen, di mana harga TBS petani swadaya masih berada di bawah harga plasma di seluruh provinsi yang memiliki data lengkap.
“Selisih harga ini menunjukkan bahwa posisi tawar petani swadaya masih lemah. Karena itu, penguatan kelembagaan petani, kemitraan yang sehat, dan perbaikan tata niaga menjadi agenda penting yang harus terus didorong,” tegasnya.
Untuk wilayah Riau, harga TBS plasma tercatat sebesar Rp3.776/kg, sedangkan harga TBS swadaya berada di level Rp3.270/kg. Meski mengalami sedikit koreksi dibandingkan pekan sebelumnya, Riau masih menjadi salah satu daerah dengan harga TBS tertinggi di Indonesia.
Ke depan, APKASINDO memproyeksikan harga TBS nasional dalam empat pekan mendatang masih akan bergerak relatif stabil dengan peluang penguatan terbatas. Proyeksi tersebut didasarkan pada tren harga CPO global yang masih berada pada level cukup baik serta prospek permintaan yang tetap terjaga.
“Kami memperkirakan dalam empat minggu ke depan harga TBS masih akan bergerak stabil dengan kecenderungan positif. Jika harga CPO dunia tetap terjaga dan tidak ada tekanan besar dari sisi eksternal, maka petani masih berpeluang menikmati harga yang baik,” tutup Gulat.

