POLEZ.ID – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) penyedia biosolar di Riau dikeluhkan para sopir truk, bus, hingga angkutan barang. Mereka mengaku harus menghabiskan waktu hingga tiga sampai empat jam hanya untuk mendapatkan solar subsidi agar dapat kembali beroperasi.
Pantauan di SPBU Jalan SM Amin, Pekanbaru, Rabu (8/7/2026), antrean kendaraan mengular hingga ke Jalan Tuanku Tambusai Ujung. Truk angkutan barang, bus antarkota, pikap, hingga sejumlah kendaraan lainnya tampak berbaris menunggu giliran mengisi biosolar. Bahkan, beberapa kendaraan mewah juga terlihat ikut mengantre.
Salah seorang sopir truk pengangkut pupuk, Ardi, mengatakan kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh SPBU yang melayani pengisian biosolar di Riau. Akibatnya, banyak waktu kerja sopir terbuang hanya untuk menunggu giliran mengisi bahan bakar.
“Kalau sedang ramai seperti sekarang, kami bisa menunggu tiga sampai empat jam baru dapat giliran. Hampir semua SPBU yang menjual biosolar kondisinya sama. Padahal barang yang kami angkut harus segera sampai ke tujuan,” ujar Ardi.
Menurutnya, antrean panjang tidak hanya menghambat distribusi barang, tetapi juga meningkatkan biaya operasional karena sopir kehilangan kesempatan mengambil muatan berikutnya.
“Kalau terlalu lama mengantre, jadwal pengiriman pasti terlambat. Waktu kami habis di SPBU, bukan di jalan. Kami berharap pasokan biosolar kembali normal agar antrean berkurang dan aktivitas distribusi barang tidak terganggu,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Johan, sopir minibus rute Pekanbaru-Sipirok. Ia mengungkapkan antrean biosolar tidak hanya terjadi di Riau, tetapi juga di sejumlah SPBU di Sumatera Utara.
“Dari informasi teman-teman sesama sopir, antrean solar hampir terjadi di seluruh wilayah Sumatera. Jadi bukan hanya di Riau, tetapi juga di Sumatera Utara dan daerah lainnya,” kata Johan.
Ia berharap pemerintah bersama pihak terkait segera mengambil langkah agar distribusi biosolar kembali lancar. Menurutnya, antrean yang terus terjadi berdampak langsung terhadap layanan angkutan umum maupun distribusi logistik.
“Kami berharap pasokan biosolar ditambah dan distribusinya diperbaiki. Kalau kondisi ini terus berlanjut, sopir yang paling terdampak karena waktu habis di antrean, sementara penumpang maupun barang harus tetap sampai tepat waktu,” tuturnya.
Para sopir berharap persoalan antrean biosolar dapat segera diatasi sehingga aktivitas transportasi dan distribusi barang di Riau maupun wilayah Sumatera dapat kembali berjalan normal.

