POLEZ.ID – Keterlambatan pencairan uang bulanan beasiswa sawit kembali menuai sorotan. Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat ME Manurung, mengungkapkan keresahan yang dialami para mahasiswa penerima beasiswa yang hingga kini belum menerima dana biaya hidup mereka.
Menurut Gulat, kondisi ini sangat memprihatinkan karena mayoritas penerima beasiswa berasal dari keluarga kurang mampu. Ia menyebut sekitar 85 persen mahasiswa penerima berada dalam kondisi ekonomi terbatas, sehingga sangat bergantung pada dana bulanan tersebut.
“Banyak anak-anak penerima beasiswa sawit gelisah karena uang bulanan mereka belum cair. Mereka ini bukan dari keluarga mampu. Kalau terlambat, kebutuhan dasar seperti uang kos, makan, hingga transportasi jadi terganggu,” ujarnya.
Ia menegaskan, keterlambatan ini bukan hanya berdampak secara finansial, tetapi juga berpengaruh pada proses belajar mahasiswa. Tekanan ekonomi disebut dapat mengganggu konsentrasi hingga menurunkan kualitas akademik.
“Ini bukan sekadar soal administrasi, ini soal hidup. Soal perut anak-anak kami. Kalau terus berulang, tentu akan mengganggu masa depan mereka,” tegasnya.
Gulat juga menyoroti bahwa persoalan serupa kerap terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, pihaknya mendesak pemerintah untuk segera mencari solusi konkret agar keterlambatan pencairan tidak terus berulang.
Sebagai informasi, beasiswa sawit merupakan program dari Direktorat Jenderal Perkebunan di bawah Kementerian Pertanian, yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Program ini bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor kelapa sawit.
Selain mendapatkan fasilitas kuliah gratis, para penerima beasiswa juga memperoleh biaya hidup sebesar Rp 2,3 juta per bulan hingga lulus. Namun, justru komponen biaya hidup inilah yang kini menjadi persoalan utama akibat keterlambatan transfer ke rekening mahasiswa.
Apkasindo berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penyaluran dana, agar program yang sejatinya membantu masyarakat kecil ini tidak justru menjadi beban baru bagi para penerimanya.

