POLEZ.ID – Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menetapkan arah strategis tahun 2026 untuk memperkuat peran filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Anggota (RUA) yang digelar pada 23 April 2026 di Jakarta.
Di tengah tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga ketimpangan ekonomi, PFI mendorong transformasi pendekatan filantropi agar lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berdampak luas.
Ketua Badan Pengurus PFI, Rizal Algamar, mengatakan arah strategis ini merupakan kelanjutan dari penguatan peran PFI sebagai pusat kolaborasi filantropi nasional yang telah dibangun sepanjang 2025.
“Ke depan, fokus kami tidak hanya memperluas kolaborasi, tetapi juga memastikan setiap inisiatif terhubung dalam satu ekosistem dan berkembang menjadi aksi kolektif yang lebih terarah,” ujarnya.
Tiga Pilar Utama
PFI menetapkan tiga pilar utama dalam strategi 2026. Pertama, memperkuat peran sebagai filantropi hub nasional yang menghubungkan dan menyelaraskan berbagai aktor lintas sektor.
Kedua, mengembangkan ekosistem kolaborasi melalui forum multi-pemangku kepentingan dan klaster tematik, khususnya untuk isu kemiskinan, ketahanan ekonomi, dan perubahan iklim.
Ketiga, memperkuat infrastruktur pengetahuan serta inovasi pendanaan sosial berbasis data, termasuk publikasi strategis dan model pembiayaan berkelanjutan.
Dorong Platform Terintegrasi
Untuk mendukung implementasi strategi, PFI mengembangkan tiga platform utama, yakni Philanthropy Directory, Impact, dan Learning.
Platform directory akan menjadi basis data terintegrasi untuk memetakan aktor dan inisiatif filantropi di Indonesia. Platform impact difokuskan pada pengukuran dan pelaporan dampak agar lebih akuntabel. Sementara platform learning yang ditargetkan rampung pada 2026 akan menjadi ruang pembelajaran bersama bagi anggota.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi, efektivitas, serta kualitas kolaborasi dalam ekosistem filantropi nasional.
Kolaborasi Kian Dirasakan
Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian A. Purbasari, menyebut pendekatan kolaboratif yang difasilitasi PFI telah membuka peluang sinergi yang lebih luas.
“Kami tidak hanya belajar dari praktik baik, tetapi juga berkolaborasi lintas lembaga untuk memperluas jangkauan program,” katanya.
Hal senada disampaikan Ahmad Juwaini dari Dompet Dhuafa yang menilai kolaborasi dalam ekosistem PFI mampu memperkuat jejaring sekaligus meningkatkan kapasitas dan tata kelola lembaga.
Perkuat Peran Ekosistem
Sepanjang 2025, PFI mencatat berbagai capaian, mulai dari pertumbuhan anggota, penyelenggaraan puluhan forum diskusi, hingga pelaksanaan inisiatif strategis seperti Filantropi Indonesia Festival dan Multi-Stakeholder Forum.
Ke depan, PFI juga akan memperkuat kemitraan lintas sektor—dengan pemerintah, swasta, organisasi masyarakat sipil, hingga mitra internasional—guna mendorong kontribusi filantropi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
PFI menegaskan, masa depan filantropi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dihimpun, tetapi juga kemampuan mengelola dan mengarahkannya menjadi dampak nyata dan berkelanjutan.
Melalui RUA 2026, PFI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi penggerak ekosistem dan pendorong budaya filantropi nasional yang lebih terukur, inklusif, dan berdampak luas.

