POLEZ.ID – Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Manurung, menilai Indonesia tidak perlu terlalu khawatir terhadap kebijakan EUDR (European Union Deforestation Regulation) dari Uni Eropa.
Menurutnya, kekhawatiran berlebihan tidak sebanding dengan porsi ekspor sawit Indonesia ke kawasan tersebut yang relatif kecil dan bahkan mengalami penurunan.
“Indonesia ini sebenarnya hanya ketakutan saja terhadap EUDR. Padahal, ekspor kita ke Uni Eropa itu kecil dan justru menurun,” kata Gulat.
Ia memaparkan, ekspor minyak sawit Indonesia ke Uni Eropa pada 2025 turun 2,9% menjadi 3,23 juta ton dari 3,3 juta ton pada 2024. Di sisi lain, negara lain justru mengalami peningkatan ekspor ke kawasan tersebut.
Gulat menegaskan, kekuatan utama Indonesia justru berada pada pasar domestik. Dengan produksi sawit mencapai 56 juta ton pada 2025, ekspor tercatat 32 juta ton, sementara konsumsi dalam negeri mencapai 24 juta ton.
Jika program mandatori biodiesel B50 dijalankan penuh, konsumsi domestik diperkirakan meningkat menjadi sekitar 30 juta ton. Dampaknya, ekspor bisa berkurang hingga 5 juta ton.
“Kalau itu terjadi, justru negara lain yang akan bergantung pada Indonesia. Kita yang pegang kendali,” ujarnya.
Ia menilai pengurangan pasokan ke pasar global berpotensi menekan negara-negara Uni Eropa. Dengan ekspor yang hanya sekitar 3,23 juta ton, tambahan pengurangan akibat kebutuhan domestik dinilai bisa berdampak pada ketersediaan dan harga di sana.
“Dengan kondisi itu, mereka bisa kesulitan. Bahkan bisa memicu inflasi,” katanya.
Gulat juga menilai kebijakan EUDR tidak lepas dari kepentingan politik dagang. Menurutnya, Uni Eropa di satu sisi membutuhkan minyak sawit, namun di sisi lain memperketat regulasi.
“Ini lebih ke politik dagang. Mereka mempersulit, padahal sebenarnya mereka butuh,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Uni Eropa terdiri dari 27 negara dan tidak semuanya sepakat terhadap kebijakan tersebut. Sementara itu, pasar alternatif seperti kawasan Timur Tengah justru menunjukkan minat yang meningkat terhadap minyak sawit Indonesia.
Dengan dominasi sekitar 60% pasokan global, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam menentukan arah harga Crude Palm Oil dunia.
“Masak kita harus patuh pada Uni Eropa yang serapannya kecil? Kita ini produsen terbesar, konsumen terbesar juga,” tegasnya.
Menurut Gulat, langkah pemerintah memperkuat konsumsi domestik melalui program B50 sudah tepat dalam merespons EUDR. Kebijakan ini diperkirakan mengurangi ekspor hingga 5-6 juta ton dan berdampak signifikan terhadap keseimbangan pasokan global.
“Dunia sekarang sedang mengamati stok CPO Indonesia untuk memastikan kebutuhan mereka ke depan,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peningkatan produktivitas petani melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR) serta penerapan praktik budidaya yang baik atau GAP.
Menurutnya, langkah tersebut sekaligus menjadi jawaban atas tudingan Uni Eropa terkait isu keberlanjutan.
“Kalau petani kita sudah menerapkan praktik yang baik, klaim mereka soal ketidakberlanjutan akan gugur dengan sendirinya,” katanya.
Ia juga menilai minyak sawit memiliki keunggulan dibanding energi fosil karena dapat dimanfaatkan untuk energi sekaligus pangan.
“Minyak fosil hanya untuk energi, sementara sawit bisa untuk energi dan food. Nilainya jelas lebih tinggi,” ujarnya.
“Intinya, kita ini penentu. Kita produsen terbesar, pengguna terbesar, bukan importir,” tutupnya.

