POLEZ.ID – Dalam rangka menyemarakkan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Belantara Foundation berkolaborasi dengan Universitas Pakuan dan PT Mitra Natura Raya selaku pengelola Kebun Raya Bogor menggelar kegiatan Belantara Biodiversity Class (BBC). Program ini mengajak pelajar dan mahasiswa asal Jepang mempelajari keanekaragaman hayati melalui pendataan langsung flora dan fauna di Kebun Raya Bogor.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 1 Agustus 2026 itu diikuti 25 peserta dari University of Tsukuba Senior High School at Sakado (UTSS), Ehime University Senior High School, dan University of Tsukuba.
BBC menjadi bagian dari dukungan Belantara Foundation terhadap peringatan HKAN 2026 yang mengusung tema “Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia”. Tema tersebut menegaskan bahwa pelestarian alam dan keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat, terutama generasi muda.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga biodiversitas, khususnya di kawasan perkotaan.
“Kebun Raya Bogor memiliki peran yang sangat strategis, bukan hanya sebagai pusat konservasi tumbuhan, tetapi juga sebagai ruang terbuka hijau terluas di Kota Bogor yang memberikan manfaat ekologis, edukatif, ilmiah, dan sosial bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dolly, ruang terbuka hijau seperti Kebun Raya Bogor berkontribusi menjaga kualitas udara, mengatur iklim mikro, menjadi habitat berbagai jenis satwa dan tumbuhan, sekaligus berfungsi sebagai laboratorium alam bagi pelajar dan mahasiswa.
Ia menambahkan, pembelajaran langsung di lapangan memberikan pengalaman yang lebih bermakna karena peserta tidak hanya mengenal kekayaan biodiversitas Indonesia, tetapi juga memahami pentingnya pendataan satwa dan tumbuhan sebagai dasar upaya konservasi.
“Konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Konservasi hanya akan berhasil apabila dibangun melalui kemitraan yang kuat, saling percaya, dan berbagi pengetahuan,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengukur pengetahuan awal mengenai flora dan fauna Kebun Raya Bogor. Selanjutnya mereka dibagi menjadi empat kelompok dan melakukan pengamatan lapangan pada empat jalur observasi sepanjang sekitar satu kilometer.
Selama observasi, peserta dibekali teropong, lembar panduan identifikasi flora dan fauna, serta buku catatan untuk mendokumentasikan hasil temuan. Mereka didampingi fasilitator dari Belantara Foundation, dosen dan mahasiswa berbagai program studi Universitas Pakuan, tim Kebun Raya Bogor, serta penerjemah dari Program Studi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Pakuan.
Usai pengamatan, seluruh peserta mempresentasikan hasil observasi dalam sesi diskusi sebelum mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah mengikuti rangkaian kegiatan.
Dolly menjelaskan, satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Burung membantu penyebaran biji, kupu-kupu berfungsi sebagai penyerbuk alami, sedangkan reptil dan amfibi berperan sebagai pengendali hama. Selain itu, keberadaan kelompok satwa tersebut juga menjadi indikator kualitas lingkungan.
Namun, biodiversitas saat ini menghadapi berbagai ancaman seperti kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan satwa ilegal, pencemaran lingkungan, perubahan iklim, hingga kerusakan ekosistem.
Dalam penutupan sambutannya, Dolly mengajak generasi muda menjadi “Global Biodiversity Ambassadors” atau Duta Global Keanekaragaman Hayati yang menyebarluaskan pentingnya pelestarian biodiversitas kepada masyarakat dunia.
Sementara itu, Head Teacher of International Studies Senior High School at Sakado, University of Tsukuba, Yoshikazu Tatemoto, menilai program tersebut memberikan pengalaman berharga karena mampu menghubungkan teori yang dipelajari di sekolah dengan praktik di lapangan.
“Kami berharap kerja sama pendidikan konservasi biodiversitas seperti ini terus berkembang dan dapat mempererat hubungan Indonesia dan Jepang dalam bidang pendidikan lingkungan hidup,” ujarnya.
Perwakilan peserta dari University of Tsukuba Senior High School at Sakado, Kobayashi Mia, mengaku semakin memahami bahwa setiap spesies memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Peserta lainnya dari Ehime University Senior High School, Yoshinaga Uta, mengatakan pengalaman melihat langsung beragam tumbuhan dan satwa liar di Kebun Raya Bogor membuatnya memahami bahwa konservasi membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk generasi muda.
Sementara mahasiswa University of Tsukuba, Kobori Hayato, menilai pendataan biodiversitas merupakan langkah awal yang sangat penting dalam mendukung upaya konservasi.
SPV Pengembangan Konservasi Kebun Raya Bogor, Saniyatun Mar’atus Solihah, mengatakan Kebun Raya Bogor tidak hanya berfungsi sebagai destinasi ekowisata, tetapi juga laboratorium alam yang mendukung konservasi, penelitian, pendidikan, dan jasa lingkungan.
Saat ini Kebun Raya Bogor memiliki hampir 12 ribu spesimen tumbuhan hidup yang juga menjadi habitat berbagai satwa liar.
“Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenali biodiversitas secara langsung. Semoga pengalaman ini dapat menumbuhkan kepedulian dan komitmen terhadap pelestarian biodiversitas di tingkat global,” tutupnya.

