Search

15 Mei 2026

|

Ekonomi & Bisnis

BPDP Dorong Gen Z Jadi Pengusaha Sawit, Peluang UMKM Dinilai Masih Sangat Besar

POLEZ.ID – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) BLU Kementerian Keuangan mendorong generasi muda, khususnya Gen Z, untuk terjun menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis sawit. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit nasional sekaligus memperkuat rasio kewirausahaan Indonesia.

Dorongan itu disampaikan dalam Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit bertema “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood” yang digelar di AKPY-Stiper, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (12/5/2026).

Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY), Purwadi, mengatakan Indonesia hingga kini masih menjadi pemain utama industri sawit global, baik dari sisi produksi, ekspor, maupun konsumsi.

Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting untuk menjaga keberlanjutan komoditas strategis tersebut di masa mendatang.

“Indonesia memiliki area sawit terluas di dunia, eksportir terbesar, sekaligus konsumen terbesar. Sawit menjadi komoditas unggulan Indonesia di berbagai aspek,” ujar Purwadi dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, secara global luas lahan sawit hanya sekitar 6 persen dari total tanaman penghasil minyak nabati dunia. Namun, sawit dinilai paling unggul karena memiliki ratusan produk turunan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dari bangun pagi sampai tidur, banyak produk yang kita gunakan mengandung sawit. Karena itu sawit menjadi pesaing besar minyak nabati lainnya,” katanya.

Purwadi juga menantang generasi muda untuk memanfaatkan peluang bisnis di sektor sawit, khususnya pada pengembangan produk-produk UMKM berbasis sawit.

“Peluang bisnis sawit ini masih sangat besar untuk dikembangkan terutama produk-produk UKM. Tetapi anak mudanya jangan sampai letoy dan bermalas-malasan. Kita harus mau belajar salah satunya melalui workshop ini,” ujarnya.

Ketua Pelaksana Workshop, Qayuum Amri, mengatakan kegiatan tersebut terselenggara melalui kerja sama Majalah Sawit Indonesia dengan dukungan penuh BPDP, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), serta AKPY-STIPER.

Ia menyebut workshop dirancang untuk mengenalkan potensi usaha sawit kepada generasi muda, termasuk praktik pembuatan produk oleofood berbasis sawit di INSTIPER Bakery Academy.

“Kami ingin menarik minat Gen Z agar menjadi penerus keberlanjutan sawit di masa depan. Mahasiswa akan diajak belajar langsung membuat produk oleofood berbasis sawit,” kata Qayuum.

Selain pelatihan teknis, peserta juga mendapatkan materi kewirausahaan dan kisah sukses pelaku usaha kreatif. Menurutnya, industri sawit memiliki peluang besar karena mempunyai lebih dari 170 produk turunan yang bisa dikembangkan menjadi bisnis baru.

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, mengapresiasi penyelenggaraan workshop tersebut karena dinilai strategis dalam mendorong lahirnya pengusaha muda sawit yang adaptif dan kolaboratif.

“Sangat menginspirasi sekali acara ini. Tema ini sangat strategis untuk mendorong Gen Z agar adaptif dan kolaboratif dalam optimalisasi sawit secara berkelanjutan,” ujar Bagus dalam sambutan yang dibacakan Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Refani Anwar Azis.

Di sisi lain, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan BPDP memiliki banyak program yang dapat dimanfaatkan generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan industri sawit nasional.

“Kalau teman-teman mau kuliah, BPDP punya program beasiswa dengan 42 kampus mitra BPDP untuk berbagai jenjang pendidikan mulai D3, D4, maupun S1,” kata Helmi.

Ia menambahkan, BPDP juga terus mendorong lahirnya pelaku UMKM baru berbasis sawit. Menurutnya, sektor sawit memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dari ekspor nonmigas yang mencapai sekitar 9 hingga 10 persen.

“BPDP sebagai BLU Kemenkeu siap berkolaborasi dengan teman-teman untuk mengembangkan sawit. Rasio kewirausahaan kita masih sekitar 3 persen, padahal indikator negara maju minimal 10 persen,” ujarnya.

Helmi berharap generasi muda mampu menciptakan inovasi baru berbasis sawit, kakao, dan kelapa. Ia juga mencontohkan sejumlah produk kreatif turunan sawit yang mulai berkembang di masyarakat, seperti peci berbahan lidi sawit hingga batik sawit.

“Kami berharap melalui program ini lahir inovasi UKM sawit lainnya,” tutupnya.