Search

30 Mei 2026

|

Ekonomi & Bisnis

Idris Lambang Ungkap Dampak Pendampingan Astra Agro-CPOPC, Petani Sawit Kini Raup Puluhan Juta per Bulan

POLEZ.ID – Kelapa sawit kini bukan lagi sekadar komoditas perkebunan bagi masyarakat di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Di balik hamparan kebun sawit, tersimpan kisah perubahan hidup para petani yang perlahan menikmati peningkatan kesejahteraan dari hasil panen tandan buah segar (TBS).

Salah satunya dirasakan Idris Lambang, Ketua Kelompok Tani Bina Bersama Lestari. Pria berusia 53 tahun itu mengaku sawit telah mengubah kondisi ekonomi keluarganya secara signifikan.

“Rata-rata pendapatan petani di kelompok koperasi kami, satu orang bisa mencapai Rp 35 juta setiap bulan,” ujar Idris.

Menurut Idris, sebelum menekuni perkebunan sawit dirinya sempat menjadi petani kakao. Namun, tingginya serangan hama, biaya perawatan yang mahal, hingga harga jual yang tidak stabil membuat usaha tersebut sulit bertahan.

“Banyaknya kesulitan saat menjadi petani coklat, hingga akhirnya saya memutuskan beralih ke petani sawit. Sawit menawarkan pasar yang jelas dan keuntungan jangka panjang yang lebih pasti,” ungkapnya.

Kini, bersama kelompok taninya, Idris mampu memanen dan menjual hasil kebun hampir setiap hari. Produksi kelompok mereka bahkan mencapai 1.000 hingga 1.100 ton TBS per bulan.

Hasil panen tersebut dipasarkan ke PT Letawa, anak usaha Astra Agro, yang telah menjadi mitra para petani selama kurang lebih 19 tahun. Kemitraan itu disebut membawa perubahan besar bagi petani, terutama dalam hal akses pasar dan peningkatan kualitas hasil panen.

“Banyak sekali manfaat yang kami rasakan. Kami rutin mendapatkan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kualitas panen,” katanya.

Pendampingan yang diberikan tidak hanya berupa teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan. Petani dibimbing mulai dari teknik pemupukan, metode panen yang efektif, hingga pengelolaan kebun berkelanjutan. Bahkan, pelatihan juga dilakukan secara daring agar para petani terus mendapatkan pengetahuan terbaru.

Upaya peningkatan kapasitas petani itu semakin diperkuat lewat kolaborasi Astra Agro bersama Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) yang menggelar pelatihan bagi petani sawit mandiri di Pasangkayu.

Kegiatan yang berlangsung di Palu pada 28-29 April 2026 itu menitikberatkan pada penerapan Good Agricultural Practices (GAP), efisiensi pengelolaan kebun, serta praktik perkebunan berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Idris mengaku pelatihan tersebut membuat dirinya semakin memahami cara merawat tanaman sawit secara optimal, mulai dari awal penanaman hingga perawatan rutin.

“Pelatihan seperti ini yang menjadi salah satu pendukung kami untuk menjadi petani sawit yang semakin berkualitas,” ujarnya.

Direktur Sustainability and Smallholder CPOPC, Antonius Yudi, menegaskan petani kecil memiliki posisi strategis dalam rantai pasok industri sawit global. Karena itu, penguatan kapasitas petani dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit ke depan.

“Harapannya kegiatan ini mampu meningkatkan keterampilan teknis sekaligus memperkuat pemahaman peserta terhadap pentingnya efisiensi dan keberlanjutan dalam pengelolaan kebun,” katanya dalam keterangan tertulis.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Perkebunan dan Pertanian Kabupaten Pasangkayu, Abidin. Ia menilai penerapan praktik budidaya yang baik menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing petani sawit lokal.

Di sisi lain, Kabupaten Pasangkayu juga mencatat capaian ekonomi positif. Pada Musrenbang RKPD 2027 yang digelar April 2026, Pasangkayu meraih penghargaan sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Barat.

Sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit dan produk turunannya, menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Aktivitas produksi crude palm oil (CPO) beserta rantai industrinya dinilai berperan besar dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Berbagai program pendampingan dan penguatan kapasitas yang dijalankan Astra Agro Grup bersama para mitra pun diharapkan mampu terus meningkatkan produktivitas petani sekaligus memperkuat daya saing perkebunan sawit di Sulawesi Barat.