POLEZ.ID – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Riau diselenggarakan di Teluk Kuantan, Kuantan Singingi (Kuansing), mulai 26 Juni hingga 3 Juli 2026. Setiap kabupaten/kota menampilkan anjungan stand yang merepresentasikan ciri khas budayanya, islamic, serta melayu.
Dari dua belas anjungan, ada yang menggelitik publik setelah melihat anjungan milik Kabupaten Kepulauan Meranti karena nilai-nilai bangunan itu dianggap belum mengandung tiga unsur seperti di atas. Alhasil pengunjung menilai anjuan Kepulauan Meranti semacam ‘Mushola’.
Anjungan MTQ merupakan marwah daerah atau lambang identitas setiap wilayah, yang seharusnya menjadi kebanggaan ini malah justru disia-siakan sebab roh anjungan Kepulauan Meranti hanya terfokus pada nilai Islami saja.
Marwan, selaku Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kepulauan Meranti saat diwawancarai Polez.id, Jumat (26/6/2026), mengatakan konsep anjungan ini mengangkat nama Mesjid AL-FALAH yang berdiri pada tahun 1925 di Selat Panjang, di mana mesjid ini merupakan yang tertua di Kepulauan Meranti.
Ketika ditanya soal nauansa budaya, dia kemudian mengakui bahwa tidak menonjolkan karena sejak awal dalam perencanaan hanya fokus pada kemiripan desain Mesjid AL-FALAH tersebut. “Dari sisi kemiripan anjungan sekitar 60% dengan Mesjid AL-FALAH,” terangnya.
Kenapa hanya nilai Islami saja yang diperlihatkan, sisi budaya dan melayu kenapa tak diikutkan? Waktunya sudah sangat mepet, dan pengawasan pekerjaan sangat jauh makanya tiga konsep tadi tidak terakomodir hingga banyak yang kurang, tutur Marwan.
“Sebenarnya kecewa, tiga motif tadi tidak tergambarkan di anjungan ini hanya nuansa Islam saja karena kemampuan tukang terbatas, alhasil inilah jadinya,”pungkasnya.
Beliau secara rinci menjelaskan, dengan ukuran anjungan 5 x 5 meter persegi Pemerintah Daerah Kepulauan Meranti menganggarkan dana sekitar Rp 130 Juta.

