POLEZ.ID – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan terus memperkuat promosi komoditas perkebunan nasional sekaligus mendorong pengembangan UMKM berbasis kakao. Upaya itu diwujudkan melalui workshop bertajuk “Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah” yang digelar di Roemah UMKM BPDP @ SMESCO Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan yang dikemas secara edukatif dan interaktif itu menghadirkan pelaku usaha cokelat lokal Cokelatin Signature. Peserta diajak mengikuti sesi story sharing, chocolate tasting, hingga praktik langsung membuat minuman berbasis kakao Indonesia.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan BPDP tidak hanya fokus pada pengelolaan dana perkebunan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan UMKM.
“Putra-putri Bapak Ibu yang sudah lulus SMA punya kesempatan kuliah melalui program beasiswa sawit. Semua biaya ditanggung, termasuk uang saku bulanan,” ujar Helmi.
Ia menjelaskan, penerima beasiswa tidak hanya berasal dari keluarga pemilik kebun sawit, tetapi juga keluarga pekerja di sektor sawit, seperti sopir perusahaan maupun profesi lain yang berkaitan dengan industri sawit.
Selain program pendidikan, BPDP juga terus mendorong tumbuhnya UMKM berbasis komoditas perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Kami ingin ini bukan sekadar omon-omon. Kami ingin menjadi sesuatu yang nyata. Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jejaring dan melihat apa yang bisa disupport oleh BPDP untuk pengembangan UMKM,” katanya.
Helmi berharap workshop tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda untuk membangun usaha berbasis komoditas perkebunan nasional.
Angkat Potensi Kakao Indonesia
Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, mengungkapkan bisnis yang dijalankannya berangkat dari besarnya potensi kakao Indonesia. Menurutnya, Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia.
Namun ironisnya, citra cokelat premium justru lebih identik dengan negara-negara Eropa.
“Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” ujar Nugroho.
Dalam sesi edukasi, ia menjelaskan sejarah tanaman Theobroma cacao yang berarti “food of god” atau makanan para dewa. Peserta juga diperkenalkan pada perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta tiga varietas utama kakao, yakni criollo, forastero, dan trinitario.
Tak hanya teori, peserta workshop juga diajak mempraktikkan langsung pembuatan minuman berbasis kakao bersama Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, dan Shana yang memiliki keahlian di bidang mixology.
Kreasi Minuman Cokelat Kekinian
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan dengan sejumlah menu minuman berbasis kakao, seperti Earl Grey Criollo Chocolate dan Pistachio Criollo Chocolate yang dipadukan dengan granola.
Pada menu Earl Grey Criollo Chocolate, peserta dikenalkan pada perpaduan teh Earl Grey dengan cokelat criollo yang memiliki karakter rasa kuat dan khas.
“Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” ujar Shana.
Sementara pada sesi berikutnya, peserta membuat Pistachio Criollo Chocolate yang terinspirasi dari tren Dubai chocolate dan pistachio yang tengah populer.
Peserta mempraktikkan teknik menghias bibir gelas menggunakan pistachio paste dan cacao nibs, membuat tampilan minuman berlapis dengan teknik gradasi warna, hingga penggunaan edible flower sebagai garnish.
Suasana workshop berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Peserta aktif bertanya, saling menunjukkan hasil kreasi minuman, hingga mendokumentasikan karya mereka untuk diunggah ke media sosial.
Selain teknik pengolahan kakao, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan non-dairy creamer berbahan sawit sebagai inovasi produk minuman berbasis perkebunan. Creamer sawit digunakan untuk menghasilkan tekstur minuman yang creamy dan seimbang, sekaligus memperkenalkan potensi produk turunan perkebunan Indonesia bernilai tambah tinggi.
Melalui kegiatan “Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah”, BPDP berharap masyarakat semakin memahami potensi besar kakao Indonesia, mengenal produk UMKM berbasis perkebunan, serta termotivasi mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan nasional.

