GAPKI Ragukan Produksi Sawit 2027 Capai 56,6 Juta Ton, El Nino Jadi Ancaman

GAPKI Ragukan Produksi Sawit 2027 Capai 56,6 Juta Ton, El Nino Jadi AncamanYPASNEWS

POLEZ.ID – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) meragukan target produksi minyak sawit nasional pada 2027 sebesar 56,6 juta ton dapat tercapai. Ancaman El Nino yang mulai berdampak terhadap produktivitas kebun menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan menekan produksi.

Bendahara Umum GAPKI, Mona Surya, mengatakan dampak kekeringan mulai terlihat di lapangan. Berdasarkan pengamatannya saat mengunjungi kebun, berat janjang rata-rata (BJR) mengalami penurunan sekitar 17 hingga 20 persen hanya dalam dua bulan.

“Buah di pokok sudah banyak, tetapi karena tidak turun hujan, buahnya tidak terbentuk. Itu akan sangat memengaruhi produksi tahun depan,” kata Mona dalam konferensi pers IPOC 2026 di Kantor GAPKI, Jakarta akhir pekan lalu.

Menurut Mona, kondisi tersebut membuat proyeksi produksi sawit pada 2027 perlu dicermati kembali. Ia memperkirakan produksi berpotensi hanya mencapai 55 juta ton, lebih rendah dari proyeksi awal GAPKI sebesar 56,6 juta ton.

“Berdasarkan data kita memang 56,6 juta ton, tapi saya tidak yakin. Mungkin bisa 55 juta ton. Memang agak sulit mengukur kepastian produktivitas kita, apalagi dipengaruhi iklim dan banyak faktor lain,” ujarnya.

Selain ancaman El Nino, industri sawit nasional juga menghadapi sejumlah persoalan lain, mulai dari kepastian status lahan, penetapan kawasan hutan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga tata kelola ekspor.

Mona menilai kepastian hukum atas status lahan masih menjadi persoalan penting bagi pelaku usaha. Di sisi lain, industri sawit juga kerap dikaitkan dengan kejadian karhutla.

Ia menilai perusahaan tidak memiliki kepentingan untuk membakar kebun yang telah dibangun dengan investasi besar. Menurutnya, kebakaran dapat terjadi akibat berbagai faktor, termasuk aktivitas manusia.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah belum jelasnya peran PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) dalam tata kelola ekspor sawit. Pelaku usaha, kata Mona, masih menunggu kepastian apakah perusahaan tersebut akan bertindak sebagai eksportir tunggal atau hanya menjalankan fungsi pencatatan.

“Sampai sekarang masih kita pertanyakan, apakah akan menjadi eksportir tunggal atau sebagai pencatat saja. Itu sangat penting, karena sangat memengaruhi harga. Jadi bukan cuma wartawan yang menunggu, kita juga menunggu,” katanya.

GAPKI juga menyoroti rencana penerapan mandatori biodiesel B50 yang berpotensi memengaruhi volume ekspor sawit Indonesia.

Ketua Panitia IPOC 2026, Suryanto Bun, mengatakan berbagai persoalan tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam konferensi sawit internasional tahun ini. Melalui forum tersebut, pelaku industri diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih baik dalam menghadapi tantangan global.

Sementara itu, Mona menegaskan hasil pembahasan IPOC 2026 akan dirangkum dan disampaikan kepada pemerintah sebagai masukan untuk perbaikan kebijakan industri sawit.

“Hasil dari IPOC ini akan kita kirimkan kepada pemerintah. Kita berharap pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam konferensi ini, terutama untuk perbaikan, kita sampaikan kepada pemerintah,” ujarnya.

IPOC 2026 mengusung tema Palm Oil in a Fragmented World: Securing Food, Energy, and Economic Resilience. Konferensi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 11–13 November 2026 di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, Bali.

GAPKI menargetkan jumlah peserta tahun ini mencapai 2.000 orang, meningkat dari jumlah peserta pada penyelenggaraan sebelumnya yang berkisar 1.500 hingga 1.600 orang.