Limbah Cair Sawit Diolah Jadi Listrik, PLTBg Sei Mangkei Dukung Kebutuhan Energi Industri
YPASNEWS
POLEZ.ID – Limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) tak lagi sekadar menjadi persoalan dalam pengelolaan industri sawit. Di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara, limbah tersebut diolah menjadi biogas dan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik.
Pemanfaatan POME itu dilakukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei yang dikembangkan melalui kerja sama Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) dengan PT Perkebunan Nusantara III (Persero).
PLTBg Sei Mangkei memiliki kapasitas terpasang 2,4 megawatt (MW). Pembangkit tersebut memanfaatkan limbah cair dari pabrik kelapa sawit milik PTPN III yang berada di kawasan tersebut.
Setiap hari, sekitar 790 meter kubik POME diolah untuk menghasilkan energi listrik.
Operations and Maintenance Area Manager PLTBg dan PLTS Sei Mangkei, Rein Nasution, mengatakan pemanfaatan POME merupakan bagian dari upaya meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) di kawasan industri tersebut.
“Limbah cair yang sebelumnya tidak digunakan sama sekali, dikelola untuk memiliki nilai komersial,” kata Rein, Rabu (23/9/2026).
Sejak mulai beroperasi pada 2020 hingga saat ini, PLTBg Sei Mangkei telah menghasilkan sekitar 63.708 megawatt hour (MWh) listrik. Pengoperasian pembangkit berbasis biogas itu juga diklaim telah berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon sekitar 500.000 ton CO2.
Menurut Rein, pengolahan POME menjadi biogas memberikan nilai tambah terhadap limbah yang dihasilkan industri sawit sekaligus menyediakan sumber energi yang lebih bersih bagi kawasan industri.
Kebutuhan Listrik Kawasan Terus Meningkat
Pengembangan EBT menjadi semakin penting seiring pertumbuhan aktivitas industri di KEK Sei Mangkei.
Dalam tiga tahun terakhir, jumlah pabrik yang beroperasi di kawasan tersebut meningkat dari sekitar enam unit menjadi 34 pabrik. Pertumbuhan jumlah industri itu turut mendorong kebutuhan listrik yang kini mencapai sekitar 74 MW.
“Artinya kebutuhan listriknya sudah cukup besar,” ujar Rein.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, KEK Sei Mangkei tidak hanya mengandalkan PLTBg. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) juga dikembangkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan bauran energi terbarukan.
Saat ini, PLTS di kawasan tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 2 MW. Tambahan kapasitas sekitar 3 MW ditargetkan mulai memasuki Commercial Operation Date (COD) pada Oktober 2026.
Dengan tambahan tersebut, total kapasitas pembangkit EBT di kawasan KEK Sei Mangkei akan mencapai sekitar 7,4 MW.
Meski demikian, kontribusi EBT terhadap kebutuhan listrik kawasan saat ini masih sekitar 10 persen. KEK Sei Mangkei menargetkan kontribusi energi terbarukan meningkat menjadi sekitar 20 persen.
“Kawasan itu mengharapkan kurang lebih 20 persen kebutuhan listrik kawasan ini harus dari sumber EBT,” jelas Rein.
Untuk mencapai target tersebut, pengembangan PLTS masih akan dilanjutkan. KEK Sei Mangkei menargetkan pembangunan PLTS ground-mounted berkapasitas sekitar 8 MW serta PLTS rooftop sebesar 5 MW.
Dengan rencana itu, masih dibutuhkan tambahan kapasitas PLTS sekitar 13 MW.
“Jadi sebenarnya ada kebutuhan sekitar 13 mega lagi untuk ini,” imbuhnya.
Pengembangan EBT di KEK Sei Mangkei menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan energi yang diperkirakan terus bertambah seiring dengan meningkatnya aktivitas industri.
Di sisi lain, pemanfaatan POME menjadi biogas menunjukkan adanya potensi lain dari industri kelapa sawit. Limbah dari proses pengolahan sawit dapat dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan sekaligus memberikan nilai tambah.
Pemanfaatan tersebut juga menjadi salah satu model integrasi antara industri sawit dan ekosistem energi bersih di kawasan industri.



