POLEZ.ID – Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr. Gulat Medali Emas Manurung, resmi melantik jajaran pengurus DPW Apkasindo Riau periode 2026-2031 di Grand Ballroom Hotel Grand Central Pekanbaru, Kamis (18/6/2026).
Pelantikan tersebut dihadiri pengurus DPD Apkasindo se-Riau, perwakilan pemerintah daerah, serta para petani sawit dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Riau.
Ketua DPW Apkasindo Riau, KH Suher, mengaku amanah yang kembali diberikan kepadanya untuk memimpin organisasi petani sawit terbesar di Riau bukanlah tugas yang ringan. Apalagi, dirinya kini memasuki periode kedua kepemimpinan dengan usia yang tidak lagi muda.
“Ini adalah amanah yang berat bagi saya. Pada periode pertama, Alhamdulillah saya bisa menjalankan tugas dengan semaksimal mungkin. Di periode kedua ini, umur saya sudah 62 tahun, tentu pikiran dan fisik sudah mulai renta,” ujar Suher.
Meski demikian, ia optimistis kepengurusan yang baru dilantik mampu bekerja sama dan bersatu dalam memperjuangkan kesejahteraan petani sawit di Riau.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi petani sawit saat ini masih cukup besar, termasuk gejolak harga tandan buah segar (TBS) yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.
“Kita tahu baru-baru ini terjadi goncangan harga TBS sawit. Oleh karena itu Ketua Umum DPP bergerak cepat menemui seluruh stakeholder. Alhamdulillah dalam waktu 10 hari harga sawit mulai merangkak naik kembali,” katanya.
Suher juga menekankan pentingnya memanfaatkan berbagai program yang disalurkan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), terutama tiga program utama yang langsung menyentuh kepentingan petani sawit, yakni Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), beasiswa pendidikan, serta bantuan sarana dan prasarana (sarpras).
“Setiap tahun kita berharap ada kebun anggota yang mendapatkan program PSR. Untuk beasiswa, Alhamdulillah sudah banyak anak-anak Riau yang menerima manfaatnya. Tahun 2026 ini setidaknya kuota 1.250 mahasiswa harus kita kejar dari total 5.000 kuota yang disediakan BPDP,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr. Gulat Medali Emas Manurung, mengingatkan seluruh pengurus agar membangun hubungan yang harmonis dengan pemerintah dalam memperjuangkan aspirasi petani.
“Pesan saya, jangan coba-coba melawan pemerintah. Tetapi rangkul pemerintah. Sambil dirangkul, bisikkan keluhan kita,” tegas Gulat.
Ia menambahkan, keberadaan Apkasindo harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor perkebunan sawit.
Menurut Gulat, industri sawit memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian Provinsi Riau.
“Ada 3,2 juta orang ekonomi masyarakat Riau yang terikat dengan sawit. Bahkan 58 persen ekonomi Riau digendong oleh sektor sawit,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyampaikan apresiasi atas pelantikan pengurus DPW Apkasindo Riau.
Dalam sambutannya, Syahrial menyebut Riau masih menjadi daerah dengan luasan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi Riau, luas tutupan perkebunan kelapa sawit mencapai 3,87 juta hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,36 juta hektare merupakan perkebunan rakyat, termasuk 2,32 juta hektare yang dikelola petani swadaya.
“Ini membuktikan bahwa sawit merupakan alat nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap Apkasindo dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara petani dan pemerintah.
“Kami mengucapkan selamat kepada pengurus DPW Apkasindo Riau yang baru dilantik. Teruslah berjuang bersama-sama. Semakin banyak anggaran yang bisa kita kolaborasikan untuk memajukan Riau, semakin baik. Jadilah jembatan komunikasi yang kokoh antara pemerintah dan petani,” kata Syahrial.
Menurutnya, dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, Apkasindo, dan para petani, sektor sawit Riau tidak hanya akan tetap menjadi yang terbesar di Indonesia, tetapi juga mampu menjadi contoh pengelolaan sawit berkelanjutan di tingkat dunia.
“Kami optimistis sawit Riau tidak hanya menjadi yang terbesar, tetapi juga menjadi contoh sawit berkelanjutan di dunia,” tutupnya.

