Search

4 Mei 2026

|

Ekonomi & Bisnis

PKS Tanpa Kebun Diminta Tak Ditutup, Pakar: Kunci Jaga Daya Saing Petani Sawit

POLEZ.ID — Wacana penutupan pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun kembali mengemuka di tengah upaya pembenahan industri sawit nasional. Namun, langkah tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak serius, khususnya bagi petani sawit swadaya.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, menegaskan bahwa ide tersebut tidak memiliki dasar kuat, baik secara ekonomi, hukum, maupun sosial.

“Tidak ada alasan untuk menutup PKS tanpa kebun. Justru keberadaannya dibutuhkan,” ujar Tungkot.

Solusi untuk Kebun Rakyat

Tungkot menjelaskan, keberadaan PKS tanpa kebun telah berkembang sejak awal 2000-an sebagai respons atas kebutuhan petani, terutama yang tidak terjangkau oleh pabrik inti-plasma.

Menurutnya, karakter tandan buah segar (TBS) yang mudah rusak dan harus segera diolah membuat keberadaan pabrik di dekat kebun menjadi sangat penting.

“Banyak kebun rakyat berada jauh dari PKS inti-plasma. PKS tanpa kebun hadir menjawab keterbatasan itu,” katanya.

Jaga Kualitas dan Tekan Biaya

Ia menambahkan, kedekatan pabrik dengan kebun tidak hanya menekan biaya angkut, tetapi juga menjaga kualitas TBS. Hal ini berdampak pada peningkatan produksi crude palm oil (CPO) secara nasional.

Selain itu, jarak angkut yang lebih pendek turut berkontribusi dalam menekan emisi dari sektor transportasi.

Dorong Pasar Lebih Kompetitif

Lebih jauh, Tungkot menilai keberadaan PKS tanpa kebun telah mengubah struktur pasar di tingkat pedesaan menjadi lebih kompetitif.

Sebelumnya, petani kerap menghadapi kondisi monopsoni atau pembeli tunggal. Namun dengan hadirnya lebih banyak pabrik, petani memiliki alternatif dalam menjual hasil panen.

“Kehadiran PKS tanpa kebun membuat pasar lebih efisien dan tidak didominasi satu pembeli,” jelasnya.

Dampak Jika Ditutup

Ia mengingatkan, penutupan PKS tanpa kebun justru akan membawa kondisi kembali ke pola lama. Petani akan kesulitan mencari pembeli, biaya meningkat, dan harga jual berpotensi turun.

“Dampaknya langsung ke petani: biaya naik, mutu turun, harga ikut tertekan,” ujarnya.

Tak hanya ekonomi, dampak sosial juga dinilai cukup besar. Aktivitas ekonomi di daerah sentra sawit berpotensi melemah jika PKS tanpa kebun dihentikan.

Fokus pada Tata Kelola

Tungkot menegaskan, PKS tanpa kebun dan PKS inti-plasma seharusnya tidak dipertentangkan. Keduanya memiliki peran berbeda dalam mendukung rantai pasok industri sawit.

Ia mendorong pemerintah untuk fokus pada perbaikan tata kelola dan menciptakan kemitraan yang adil antara pabrik dan petani.

“Biarkan persaingan berjalan sehat. Pabrik berlomba memberi harga terbaik, dan petani yang menentukan pilihan,” tutupnya.

2940916050
2940916050

Ekonomi & Bisnis

Ekonomi & Bisnis

2 minggu ago